MUTIARA HATI

Cerita Kursi Roda - 17 Mei 2018

“MUTIARA HATI”

.

.

“Aduh... udah yaa, aku udah ambil keputusan buat pisah sama kamu, kamu tinggal tunggu surat perceraiannya ajja...” kata-kata itu terucap dari suamiku beberapa tahun lalu. Saat itu aku hampir saja ingin mengakhiri hidupku, tapi aku teringat akan buah hatiku Mutiara yang ketika itu masih berusia 10 tahun dan mempunyai kebutuhan khusus sehingga dia diharuskan memakai kursi roda sepanjang hidupnya. Hal ini pula yang menjadi salah satu pemicu hancurnya keluargaku.

.

.

Dari sejak lahir Tiara memang sering keluar masuk rumah sakit sampai akhirnya Tiara divonis sakit seperti kelemahan otot / tidak adanya komunikasi antara saraf dan otot, sehingga mengharuskan Tiara memakai kursi roda sebagai alat bantu untuknya berjalan. Sementara penghasilan suamiku saat itu hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari, suamiku sering kali menyesali keadaan yang ada. Meskipun seringkali pula aku selalu memberinya masukan bahwa harusnya keadaan ini disyukuri. Tapi, setiap kali aku memberi masukan seperti itu justru malah menjadi perdebatan antara aku dan suamiku, akhirnya aku lebih memilih diam.

.

.

Dan diamku ternyata malah membuat suamiku semakin tertutup mata hatinya. Bahkan suamiku menganggap anak kami Tiara sebagai “si pembawa sial”. Hingga pada puncaknya suamikupun menceraikan aku , saat itu akupun sudah tidak lagi bekerja karena seluruh waktuku tercurah untuk anakku Mutiara..

.

.

Meski salah namun sempat terlintas dipikiranku untuk mengakhiri hidupku. Beruntung sebelum aku teguk segelas obat nyamuk cair, Mutiara dengan senyum tulusnya mengayuh kursi rodanya, menghampiriku, “Kasihan Mutiara bila aku mengakhiri hidupku, bila aku tiada kelak dengan siapa dia bergantung?” begitu gumamku dalam hati hingga kusadari bahwa niatku untuk melakukan itu adalah sebuah dosa besar. Aku berisitigfhar... kubuang gelas yang berisi cairan obat nyamuk tersebut kemudian kuhampiri dan kupeluk anakku Mutiara sambil kuucap maaf kepadanya.

.

.

Sejak saat itu aku semakin mendekatkan diri kepada Illahi, aku yakin  Allah mau mendengar keluh kesahku dan mau memberiku pertolongan. Akupun mulai memahami arti ke ikhlasan yang sesungguhnya.

.

.

Alhamdulillah, Allah memang tak pernah meninggalkan umat-NYA. Pertolongan Allah datang demikian luar biasa, aku mendapatkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga disalah satu keluarga muslim yang berasal dari negara lain.

.

.

Aku dan anakku diizinkan untuk tinggal bersama dirumahnya hingga aku tidak perlu keluar biaya untuk membayar uang kontrakan rumah. Bukan Cuma itu, majikan ku juga begitu perhatian dengan kondisi anakku Mutiara. Tiara diberikan pendidikan khusus olehnya.. Masyaa Allah, ini merupakan hal terbesar yang tidak henti-hentinya ku syukuri, karena bila aku sendiri yang membiayai pendidikan tiara pastilah aku tidak mampu, tapi lagi-lagi justru Allah yang memampukan itu melalui wasilah terbaiknya.

.

.

Sekarang, Tiara sudah menjadi gadis yang “manis” bahkan dalam keterbatasannya tiara mampu membuktikan bahwa “dia bisa berdiri diatas kakinya sendiri” meski kedua kakinya tidak mampu untuk berdiri. Hasil rajutan Tiara banyak yang minati, dan ini membuat majikan aku tergugah kembali untuk membantu tiara dalam mengembangkan hasil rajutan tangannya. Bahkan sampai aku berhenti bekerja dengan mereka karena mereka kembali ke negara asalnya, mereka tetap gencar memasarkan hasil rajutan Tiara disana. Dan hasilnya, pesanan rajutan Tiara dari negara asal majikankupun semakin banyak.

.

.

Aku bingung, aku tidak tau bagaimana cara membantu Tiara karena aku sendiri tidak bisa merajut, aku tidak bisa mengelola sebuah usaha. Tapi akupun tidak bisa seperti itu, aku keluar dari rel yang ada, aku mulai beranikan diri mengikuti kegiatan-kegiatan atau pelatihan-pelatihan tentang cara mengelola usaha bagi pemula.

.

.

Alhamdulillah, karena atas izin Allah semua itu membuahkan hasil. Rajutan Tiara kini sudah mempunyai brand sendiri. Diatas kursi rodanya Tiara membuka pelatihan rajut untuk umum dan Tiara juga mengajak teman-temannya yang memiliki keterbatasan dan keahlian yang sama untuk bergabung dalam usahanya.

.

.

“Nak... ternyata ini lah bukti cinta NYA Allah kepada ibu, sebenarnya Allah telah lama memberikan ibu MUTIARA yang begitu indah... tapi dulu ibu sempat mengira bahwa itu adalah BATU.... Kamulah MUTIARA itu nak... Mutiara, bukan cuma namamu saja tapi kamu adalah MUTIARA hati ibu yang Allah berikan “